NAMA : GALANG PERMANA KUSUMA
NIM : A1J121048
TUGAS PENGEMBANGAN BAHAN AJAR DENGAN MATERI KESADARAN LINGKUNGAN
KESADARAN LINGKUNGAN
Rusaknya lingkungan alam membuat keseimbangan lingkungan hidup mengalami ketimpangan. Banyak dampak negatif dari rusaknya lingkungan alam yang terjadi, rentetan bencana seperti banjir, tanah longsor, kebakaran, penggundulan hutan, pencemaran dan lain sebagainya semakin menambahkan jajaran daftar memperparah kondisi bumi. Menurut laporan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) tahun 2017 dan Status Lingkungan Hidup Indonesia (SHLI) tahun 2017 yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia. Pada indeks tersebut dilaporkan bahwa total air di Indonesia yang sudah tercemar mencapai kurang lebih 30% terutama di kota – kota besar. Begitu juga dengan kondisi di udara yang mengalami penurunan yang disebabkan oleh lahan hijau yang semakin menyusut, udara yang tercemar akibat asap kendaraan maupun asap pabrik industri.
Dari fenomena kerusakan lingkungan yang terjadi, maka
diperlukan upaya untuk meminimalkan kerusakan lingkungan. Salah satu upaya yang
bisa dilakukan oleh masyarakat dalam mengurangi kerusakan lingkungan adalah
dengan konsep ramah lingkungan atau yang sering disebut “go green”. Untuk
membangun perilaku ramah lingkungan perlu diwujudkan kepedulian terhadap
lingkungan. Tindakan sadar yang dilakukan manusia terhadap lingkungan bertujuan
untuk meminimalkan dampak negatif dari beberapa aktivitas manusia terhadap lingkungan.
Tujuan utama lainnya untuk memperbaiki lingkungan baik secara langsung maupun
tidak langsung. Saat ini banyaknya isu-isu lingkungan yang masih belum bisa
terselesaikan, padahal lingkungan sangat berpengaruh dalam semua aspek
kehidupan dan dampaknya cukup signifikan terhadap kehidupan manusia (Kollmuss
& Agyeman, 2002).
Mewujudkan lingkungan yang lestari perlu menjadi gerakan
seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat harus
bersama-sama berusaha menyelamatkan bumi. Masyarakat konsumen perlu didorong
untuk hemat energi, menjaga kebersihan, dan berpola hidup bersih. Ini semua
membutuhkan kebijakan pemerintah dan regulasi. Para pelaku bisnis perlu panduan
untuk memproduksi produk ramah lingkungan, salah satunya adalah perusahaan air
minum yang selama ini memproduksi produknya dengan kemasan plastik sekali
pakai. Banyak aksi yang telah dilakukan oleh masyarakat terkait dengan
pelestarian lingkungan baik dunia bisnis maupun non bisnis, demikian juga di lembaga
non bisnis yaitu lembaga atau organisasi pendidikan, yaitu sekolah maupun
perguruan tinggi.
Kesadaran Lingkungan merupakan tindakan atau sikap yang
diarahkan untuk memahami tentang pentingnya lingkungan yang sehat, bersih, dan
sebagainya. Kesadaran dalam lingkungan hidup dapat dilihat dari perilaku dan
tindakan seseorang dalam keadaan dimana seseorang merasa bebas dari tekanan
(Amos, 2008). Usaha untuk melakukan tindakan sadar diperlukan sebagai cara
pengelolaan lingkungan dengan cara memelihara atau memperbaiki kualitas
lingkungan agar kebutuhan manusia terpenuhi dengan baik.
Ada empat faktor yang mempengaruhi kesadaran lingkungan.
Pertama, faktor ketidaktahuan; didasarkan karena adanya rasa ingin tahu.
Menurut Amos (2008), sadar dapat diartikan sebagai tahu. Ketika seseorang
dikatakan tidak sadar maka orang tersebut tidak memiliki pengetahuan mengenai
lingkungan. Maka dapat disimpulkan bahwa ketidaktahuan seseorang dapat
mempengaruhi kesadaran lingkungannya. Kedua, faktor kemiskinan; miskin
merupakan keadaan dimana seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhannya.
Pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan pertumbuhan akan menyebabkan
tekanan pada penduduk. Kemiskinan menjadi salah satu sumber masalah sosial
karena mereka lebih fokus kepada pemenuhan kebutuhan daripada menanggapi
isu-isu lingkungan. Ketiga, faktor kemanusiaan; kemanusiaan berarti sifat-sifat
manusia atau secara manusia. Manusia adalah makhluk berakal yang mampu memilih
mana yang benar dan salah. jika seseorang memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi
maka mereka akan memperhatikan hal yang dapat menyelamatkan banyak manusia dan
tidak merugikan manusia lainnya. oleh sebab itu seseorang dengan tingkat
kemanusiaan yang tinggi akan lebih sadar lingkungan sehingga dapat menjaga
lingkungan demi kepentingan bersama. Keempat, faktor gaya hidup; Gaya hidup
seseorang dapat berpengaruh pada tingkat kesadaran mereka terhadap lingkungan.
Jika seseorang memiliki gaya hidup hijau maka mereka akan memperhatikan apa
yang mereka lakukan terhadap lingkungan. Minat mereka akan tertuju pada segala
sesuatu yang ramah lingkungan dan opini mereka pun dalam pandangan
menyelamatkan lingkungan (Amos, 2008).
Terdapat tiga indikator kesadaran yang masing-masing
merupakan suatu tahapan bagi tahapan berikutnya dan menunjuk pada tingkat
kesadaran tertentu, mulai dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi,
antara lain: pengetahuan, sikap, pola perilaku (tindakan) (Wibowo, 2011).
Pertama, Pengetahuan: Terdapat 6 tingkatan pengetahuan yaitu. (a) Tahu (know);
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya
jika seseorang dapat mendefinisikan materi atau objek maka orang tersebut telah
dianggap “tahu”. (b) Memahami (comprehension); memahami merupakan kemampuan
menjelaskan dengan benar tentang objek dan dapat menggambarkan objek tersebut
secara benar. (c). aplikasi (application); sebagai kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah dipelajari pada keadaan nyata. (d).analisis (analysis);
analisis adalah suatu komponen untuk menjabarkan materi atau suatu objek. (e).
sintesis (syntesis); Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun hal-hal
baru dari formulasi-formulasi yang ada, contohnya menyusun, merencanakan,
meringkas, menyesuaikan, terhadap suatu teori atau rumusan- rumusan yang telah
ada. (f). evaluasi (evaluation); Evaluasi berhubungan dengan kemampuan untuk
melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian tersebut dapat
ditentukan sendiri maupun menggunakan kriteria tertentu (Notoatmodjo, 2010).
Kedua, Sikap (attitude): Sikap adalah reaksi ataupun respon tertutup terhadap
stimulus yang ada. Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial, menyatakan bahwa
sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak. Sikap belum
merupakan suatu tindakan atau aktivitas, tetapi merupakan predisposisi tindakan
suatu perilaku. Sikap terdiri dari berbagai tingkatan. (a)., menerima
(receiving); menerima dapat diartikan bahwa orang (subjek) mau dan
memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). (b). merespon (responding);
memberikan jawaban ketika ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang
diberikan (terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah), menunjukkan bahwa
orang menerima ide tersebut. (c). menghargai (valuing); mengajak orang lain
untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap
tingkat tiga. Keempat; bertanggung jawab (responsible); bertanggung jawab
terhadap risiko yang telah dipilih merupakan sikap yang paling tinggi. Ketiga,
Tindakan: Tindakan terdiri dari beberapa dimensi meliputi; (a). persepsi
(perseption) yaitu mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan
tindakan yang akan diambil. (b). Kedua, Respon terpimpin (guided response);
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan
contoh. (c). mekanisme (mechanism); Apabila seseorang telah dapat melakukan
sesuatu dengan benar secara otomatis atau sudah merupakan kebiasaan. (d).
adopsi (adoption); Adaptasi adalah suatu tindakan yang sudah berkembang dengan
baik atau sudah dimodifikasi.
Menurut Geller (2016) terdapat tahapan - tahapan dalam
kesadaran kesadaran. Pertama, Unconscious Incompetence merupakan tahapan
seseorang tidak sadar bahwa dirinya tidak mampu dan tidak mengerti apa yang
seharusnya dia lakukan. Tahap kedua, Conscious Incompetence yaitu tahapan
dimana seseorang menyadari bahwa dia tidak mampu namun dia berusaha untuk
melakukan pembelajaran agar hal yang dilakukannya benar. Tahap ketiga,
Conscious Competence, yaitu tahapan dimana seseorang merasa percaya diri
daripada tahap sebelumnya karena dia telah mengikuti aturan yang telah
ditetapkan dan memiliki keinginan untuk naik ke tingkat selanjutnya. Tahap
keempat, Unconscious Competence, yaitu tahapan terakhir dimana seseorang
diibaratkan sudah mandarah daging yaitu dimana seseorang telah menjadikannya
sebuah kebiasaan dan mengetahui bahwa yang dilakukannya adalah benar.
Perilaku ramah lingkungan dapat diartikan sebagai
perilaku yang memberikan perhatian khusus terhadap lingkungan dalam kehidupan
sehari-hari. Perilaku ini bisa berulang-ulang atau sesekali menyangkut
pemeliharaan sumber daya alam maupun lingkungan sekitar, seperti pemeliharaan
sumber daya yang spesifik, (air, udara, tanah), pengurangan konsumsi sumber
energi (listrik, minyak, gas), mendaur ulang (mendaur ulang kertas, plastik,
dan lain-lain) serta memelihara kehidupan (tanaman dan hewan) (Saegert, 2004).
Menurut Scannell dalam Gea et al., (2016), tindakan yang
digunakan untuk meminimalkan kerusakan lingkungan atau untuk memperbaiki
keadaan lingkungan adalah perilaku pro lingkungan. Perilaku Pro lingkungan
memiliki beberapa dimensi seperti daur ulang/recycling yaitu menggunakan,
memanfaatkan atau mengolah kembali sampah yang telah digunakan. Proses
dijadikannya bahan bekas menjadi barang baru memiliki tujuan yaitu untuk
mencegah sampah menjadi barang yang tidak berguna. Menurut Permadi (2011) daur
ulang merupakan salah satu strategi untuk mengelola sampah padat yang meliputi
pemisahan, pengumpulan, pemprosesan, distribusi dan pembuatan barang bekas
pakai di dalam manajemen sampah modern. Manfaat daur ulang lainnya dapat diolah
menjadi pupuk, sampah plastik dilebur lalu dicetak ulang menjadi peralatan
rumah tangga, sampah kayu dapat menjadi dasar pembuatan kerajinan tangan
ataupun sebagai bahan bakar, sampah logam maupun besi dapat dijadikan alat pertanian
dan alat pertukangan. Dengan daur ulang sampah - sampah di bumi ini dapat
diminimalisir. Selanjutnya konsumsi ramah lingkungan/environmentally
responsible consumption yaitu adanya keinginan untuk membeli produk-produk yang
berlabel ramah lingkungan. konsumsi ramah lingkungan terdiri dari kesadaran,
perhatian, minat dan tindakan (Notoatmodjo, 2010).
Kesadaran dalam konsumsi ramah lingkungan contohnya
menyadari bahwa bahaya penggunaan styrofoam atau kemasan berbahan baku plastik
yang berlebihan. Sedangkan perhatian adalah bagaimana menanggapi masalah
penggunaan tersebut. Selanjutnya yang dimaksud dengan minat adalah mengurangi
penggunaan kemasan plastik tersebut dengan tujuan menghindari resikonya. Yang
terakhir tindakan ditunjukan sebagai respon terhadap penggunaan kemasan
tersebut dan akan berlanjut untuk di lakukan di masa yang akan mendatang.
Konservasi energi/energy conservation yaitu adanya
keinginan untuk melakukan penghematan sumber daya alam yang dapat diperbaharui
maupun tidak dapat diperbaharui. Dalam pengertiannya perilaku ini merupakan
reaksi psikolog seseorang terhadap lingkungannya. Reaksi ini digolongkan
menjadi dua macam yaitu pasif dan aktif. Pasif merupakan reaksi tanpa tindakan,
sedangkan aktif merupakan reaksi yang disertai tindakan yang nyata. Selain
mengurangi jumlah energi yang digunakan dengan cara memanfaatkan secara efisien




.jpeg)
Comments
Post a Comment